Karya: Norgadis Labuan
Kata kota aku indah
kota kata aku mewah
kata kota aku maju
kota kata aku mercu
kata dia kota buruk
dia kata kota miskin
kata dia kota jahil
dia kata kota bakhil.
ANTOLOGI PUISI-KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Memaparkan catatan dengan label KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004. Papar semua catatan
Pulauku
Karya: Norgadis Labuan
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat itu
wajahmu penuh kesyukuran
dirimu penuh kesucian
hatimu penuh ketaatan
mindamu penuh kesederhanaan
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat itu
anak-anak belari riang
diatas tanah merah yang masih berlopak
menuju rumah tok guru belajar mengaji
berteman mukkadam dan Quran
menanam benih iman dibatas kalbu
sambil merentas sejadah malam
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat ini
wajahmu penuh kerdipan
dirimu penuh cabaran
hatimu penuh persoalan
mindamu penuh kemajuan
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat ini
anak-anak duduk malas disofa kereta
berjalan laju dijalan yang tidak berlopak
menuju rumah guru kelas tambahan
berteman buku matematik dan inggeris
bersama komputer bimbit sebagai kebanggaan
sambil merentas cahaya malam
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
kini wajahmu tidak kukenal lagi.
ANTOLOGI PUISI – KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat itu
wajahmu penuh kesyukuran
dirimu penuh kesucian
hatimu penuh ketaatan
mindamu penuh kesederhanaan
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat itu
anak-anak belari riang
diatas tanah merah yang masih berlopak
menuju rumah tok guru belajar mengaji
berteman mukkadam dan Quran
menanam benih iman dibatas kalbu
sambil merentas sejadah malam
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat ini
wajahmu penuh kerdipan
dirimu penuh cabaran
hatimu penuh persoalan
mindamu penuh kemajuan
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
saat ini
anak-anak duduk malas disofa kereta
berjalan laju dijalan yang tidak berlopak
menuju rumah guru kelas tambahan
berteman buku matematik dan inggeris
bersama komputer bimbit sebagai kebanggaan
sambil merentas cahaya malam
Dua puluh tahun kutinggalkan pulauku
kini wajahmu tidak kukenal lagi.
ANTOLOGI PUISI – KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Kotaku
Karya: Norgadis Labuan
Kota ku indah tiada terbilang
pengunjung datang berulang-ulang
pemuda pemudi insprasi gemilang
menuju impian bertambah cemerlang
Pemuda pemudi insprasi gemilang
tanjak dipakai cukup bergaya
kota janjikan impian cemerlang
bersama menuju ke puncak jaya
Kota janjikan impian cemerlang
gadis bertudung berpegang tangan
jutaan pengunjung berkata berulang
kotaku indah tiada bandingan.
ANTOLOGI PUISI-KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Kota ku indah tiada terbilang
pengunjung datang berulang-ulang
pemuda pemudi insprasi gemilang
menuju impian bertambah cemerlang
Pemuda pemudi insprasi gemilang
tanjak dipakai cukup bergaya
kota janjikan impian cemerlang
bersama menuju ke puncak jaya
Kota janjikan impian cemerlang
gadis bertudung berpegang tangan
jutaan pengunjung berkata berulang
kotaku indah tiada bandingan.
ANTOLOGI PUISI-KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Berapa Harga Diri
Karya: Norgadis Labuan
Bagaimana harusku menutup auratku
dengan kain lusuhku
yang robek tak bertampal
dan busuk dihidu penghuni kota
Bagaimana harusku mengalas perutku
dengan tak berisinya kocekku
dan tangan yang kosong
yang dianggap hina penghuni kota
Malaskah aku?
sedangkan aku lahir dalam kemiskinan
jauh dari dunia akademik dan internet
jauh dari kemewahan dan kesenangan
dan dicap pengemis oleh penghuni kota
Bagaimana harusku mengubah nasibku
Sedang tiada insan sudi menggajiku
dengan kecomotan dan keperitan
yang tak berharga bagi penghuni kota
Apakah yang berharga pada diriku
untuk digadai
agar nasib bisa berubah dimata penghuni kota
namun…
tetap berharga di mata Tuhan yang esa.
16 November 2001
ANTOLOGI PUISI-KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Bagaimana harusku menutup auratku
dengan kain lusuhku
yang robek tak bertampal
dan busuk dihidu penghuni kota
Bagaimana harusku mengalas perutku
dengan tak berisinya kocekku
dan tangan yang kosong
yang dianggap hina penghuni kota
Malaskah aku?
sedangkan aku lahir dalam kemiskinan
jauh dari dunia akademik dan internet
jauh dari kemewahan dan kesenangan
dan dicap pengemis oleh penghuni kota
Bagaimana harusku mengubah nasibku
Sedang tiada insan sudi menggajiku
dengan kecomotan dan keperitan
yang tak berharga bagi penghuni kota
Apakah yang berharga pada diriku
untuk digadai
agar nasib bisa berubah dimata penghuni kota
namun…
tetap berharga di mata Tuhan yang esa.
16 November 2001
ANTOLOGI PUISI-KOTA GEMILANG WARISAN KITA 2004
Langgan:
Catatan (Atom)
